My Diari

Orang yg bijak mempelajari byk perkara drpd musuhnya sendiri,lebih baik tuk mengetahui kelemahan & kegagalan sendiri drpd menuding kesalahan kepada pihak lain.

The Servant of God - Akar kepahitan

Filed under: Uncategorized — brezeee at 12:54 pm on Wednesday, April 9, 2008

THE SERVANT OF GOD adlh kisah cerita sorg pelayan di dlm sebuah gereja. Sesuai nama jabatannya, "THE SERVANT", maka pelayan ini benar2lah sorg pelayan yg tdk mencari popularitas. Kerjaannya benar2 mengabdi pd pelayanan Tuhan. Dimana Tuhan membentuknya dan menginginkannya, ia siap melaksanakannya.

Sifatnya low profile dan tidak ada seorang jemaat pun menganggapnya. Ia memang tidak layak di hadapan manusia.

Namun, hasil jerih payahnya justru berharga sekali di mata Tuhan. Semakin THE SERVANT ini dipakai oleh pelayanan pekerjaan Tuhan, semakin juga THE SERVANT harus menjadi tidak layak di hadapan manusia.

Biarlah Tuhan yang menilai… Upahmu besar di surga… (Lukas 6:23)

Jemaat yang biasa kulihat rajin mengunjungi ibadah pada hari Minggu itu, tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Mataku menjelajah seluruh ruangan. Mencari-cari ke pelosok dan segala arah, ke bangku-bangku gereja yang panjang itu.

Tidak ada… Dia tidak kelihatan… Begitu pula biasanya dimana dia duduk. Di pojokan kanan baris belakang.

Hatiku bertanya-tanya, kemana dia. Walau gereja kami tidaklah kecil, malahan bisa dibilang cukup besar, namun aku selalu berusaha mengingat jemaat-jemaat yang datang ke gereja yang kulayani itu.

Aku menghampiri Pendeta Seniorku, Pdt. Ibrahim. "Maaf, pak pendeta.

Saya sudah tidak melihat lagi Bapak Danu dalam kebaktian ibadah raya hari Minggu," kataku mengingatkannya.

"Oh ya ?" tanyanya. Aku mengangguk dan menunggu reaksi apa yang akan diberikan Pdt. Joey.

Sembari tersenyum, ia menepuk pelan pipiku dan berkata,"Kau pemerhati yang baik…"

Ia mengajakku ke belakang mimbar dan duduk di meja yang panjang, seraya menarik selembar kertas dari beberapa tumpukan map. "Ini surat pelawatan. Kunjungilah dia.

Kamu tahu alamatnya ?" tanyanya sambil mengetikkan nama Bapak Danu pada secarik kertas itu. Aku mengingat-ingat kembali.

Sudah lama tak kukunjungi dia. Terakhir kali, aku berkunjung ketika aku dan pendeta senior yang lain, Pdt. Andreas W, melawat anaknya yang jatuh sakit. Ketika itu dia sedang bergairah dalam pelayanannya kepada Tuhan.

Tapi aku tak mengerti, mengapa iman Bapak Danu diuji sedemikian rupa. Hingga… anaknya meninggal dalam pelayanan Bapak Danu yang lagi di puncaknya. Tapi Bapak Danu tidak memaki Tuhan. Dia kelihatan tabah.

"Saya masih ingat, pak pendeta…" Pdt. Ibrahim tersenyum, dia lalu mencap stempel pada amplop surat yang diberikannya kepadaku. Perjalanan ke rumah Bapak Danu lumayan jauh ditempuh oleh kendaraan umum.

Sangat bertolak belakang dengan perjalanan pulang ke rumahku, rumah Bapak Danu seperti terletak di ujung bumi. Tapi dia jemaat yang taat dan setia.

Selalu hadir dalam acara rohani yang diselenggarakan oleh gereja, bukan saja kebaktian hari Minggu. Perjalanan yang memakan waktu 3 jam, akhirnya aku sampai juga di depan rumahnya. Rumahnya biasa-biasa saja. Tidak ada keganjilan apapun.

Aku memijit bel pintunya. Sekali… tidak ada jawaban. Dua kali… juga tidak ada… Hingga sampai lima kali… Aku memutuskan untuk balik ke gereja saat tidak ada seorangpun di rumah itu, ketika tiba-tiba pintu rumahnya terbuka.

Ku menoleh dan kulihat Bapak Danu dalam keadaan yang sukar dilukiskan. Tampangnya seperti menyimpan kesedihan yang amat dalam. Kupikir mungkin anak yang satu-satunya itu menjadi beban pikirannya.

"Ada perlu apa ?" tanyanya ketus. Aku mencoba bersahabat, dan melemparkan senyumku.

"Maaf, mengganggu, pak… aku hanya ingin melawat bapak… Kelihatannya pak Danu sudah lama tidak beribadah lagi.

Dan saya juga mengirim surat lawatan dari pak Ibrahim untuk bapak…"

"Huh ! Untuk apa !" serunya.

"Maaf, pak… Bapak tidak mau menerima juga tidak apa-apa.

Tapi saya sudah cukup senang melihat bapak dalam keadaan baik dan sehat walafiat."

Seketika itu juga ia merasakan ada seseorang yang begitu memperhatikannya. Dia lalu menepuk bahuku dan menyuruhku masuk.

"Maaf, dik… Bapak sungguh menyesal tidak bisa kebaktian di gereja anda lagi. Seumur-umur bapak tampaknya tidak akan pernah bisa beribadah disana lagi…"

"Ada yang bisa saya bantu, pak ?" tanyaku berusaha menolongnya sebisa mungkin.

"Mungkin ada saatnya bapak pindah gereja…

" "Loh ? Kenapa, pak ? Bukankah pelayanan bapak di gereja sangat membantu perkembangan gereja baik untuk gereja maupun bapak sendiri…" kataku keheranan.

"Ya… kau tahu, bapak sangat sakit hati…

" "Maaf, pak… Saya sangat lancang, tapi kalau saja saya boleh tahu apa yang menyebabkan hal itu ?" kataku perlahan-lahan agar tidak menyinggung perasaannya.

"Kau tahu… bapak sudah berkorban banyak… Bapak juga tidak setengah-setengah melayani Tuhan. Bapak ingin sungguh-sungguh melayaniNya. Walau anak bapak dalam keadaan sakit, bapak menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tapi kau tahu apa yang bapak dapatkan ? Anak bapak meninggal…"

"Jadi… bapak kecewa terhadap Tuhan ?" tanyaku.

Dia menggeleng,"Bukan hal itu… Tapi ada seseorang jemaat disana menudingku dengan suatu hal yang sakit. Katanya aku mau pamer rohani lah… Pamer iman dan segala macam. Bayangkan, betapa sakitnya hati kamu kalau juga merasakan hal itu." Seketika itu juga matanya berkaca-kaca. Dia kelihatan menyesal sekali mengapa bisa diperlakukan sedemikian itu, padahal dia bersungguh-sungguh dalam pelayanannya.

"Jadi… bapak ingin meninggalkan gereja kita karena hal itu ?" Dia mengangguk,"Iya, nak… Bapak tidak mau melihat dia lagi di gereja bapak. Makanya apabila tiap Minggu, bapak ketemu dengannya, hati bapak sangat sakit sekali, nak. Dengan terpaksa, bapak melakukan semuanya ini…"

"Wah, sayang sekali, pak… Padahal bapak sudah berbuat banyak bagi gereja kita sendiri. Pak, bukannya saya menggurui. Memang tudingan itu menyakitkan. Saya juga bisa memahami apabila saya berada dalam kondisi bapak. Saya mengerti bapak yang sudah kehilangan anak bapak, harus menerima tudingan yang tak berdasar itu. Tapi bapak harus tahu… Semakin bapak dalam melayani Yesus, semakin besar cobaan yang bapak terima. Bapak harus siap panggul salibNya itu. Memang akar kepahitan itu susah sekali dihapuskan… Saya pernah mengalami hal seperti bapak. Tapi apakah akar kepahitan itu harus dipendam begitu saja ?

Tidak, pak… Apakah bapak pikir dengan pindah gereja, hal itu akan terselesaikan ? Tidak… Bila di gereja baru bapak mengalami hal yang serupa, bapak pasti akan menerima akar kepahitan yang lebih parah lagi…"

"Ya, apa yang harus bapak lakukan, nak ?" "Mungkin saja bapak masih menyimpan akar pahit ini, tapi dia yang telah menyakiti hati bapak sudah melupakan semuanya itu, kan bapak merasakan tidak enak, kan ? Sementara dia ? Dia enak-enak saja kan, tidak mengingat lagi apa yang dia telah lakukan… Minta Tuhan mengangkat akar kepahitan ini… Doakan orang yang menuding bapak…

Ampuni dia, pak. Bapak harus belajar mencoba mengampuninya…" Sekonyong-konyong matanya menumpahkan air mata. Ia merangkulku dan membisikkan kata terima kasih karena telah menguatkannya. Aku mengajaknya untuk berdoa bersama. Untuk melupakan semua akar kepahitan yang membelenggunya.

Minggu depan, kulihat Bapak Danu kembali hadir di gereja dengan muka yang ceria dan motifasi yang menggebu-gebu untuk melayani Tuhan kembali.

Ah… terima kasih, Tuhan… Kita pernah mengalami semua hal diatas. Akar kepahitan yang membikin kita menjadi kendor melayani Tuhan. Semoga kalian yang masih menyimpan akar kepahitan bisa belajar mengangkat akar kepahitan kalian itu.

Jangan takut kalau masih belum bisa. Minta tolong pada Yesus untuk mencabutnya tuntas.

Serahkan pada pertolonganNya… Puji Tuhan…

- Jagalah supaya jangan seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:15) -

Disajikan oleh : Freedi Djajadi