|
Hidup ini tidak bisa kita kuasai, ada hal2 yg bisa kita kuasai, ada hal2 yg sangat di luar kuasa kita, bencana adalah salah satunya.
Tahap2 menghadapi bencana :
-
Tahap penyangkalan. Kita sangat shock, terkejut swkt mendengar sesuatu yg terjadi pd diri kita ato keluarga kita. Reaksi yg timbul adalah reaksi tidak percaya. Waktu kita bereaksi sesungguhnya kita sedang dlm proses mencoba menyangkal bahwa itulah yang telah terjadi. Adakalanya diperlukan untuk berdiam sejenak , sebab pada proses penyangkalan seseorang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yg luar biasa pahitnya.
-
Kemarahan, reaksi yg sering dimunculkan sewaktu kita menyadari bencana benar2 telah menimpa kita. Biasanya ingin tao sapa yg tlh bersalah, sapa yg bertanggung jawab. Apakah orang lain, Tuhan ato sapa saja, n kadang kita tidak bisa menunjuk orang lain ato Tuhan, akhirnya hanya bisa menunjuk diri sendiri, menyalahkan diri sendiri.
-
Tahap bernegoisasi, misal dlm kasus seperti penyakit, kita bernegoisasi n berkata kepada Tuhan, OK-lah Tuhan, saya mengaku salah, saya berdosa, ampuni saya. Saya berjanji kalo dibebaskan dari bencana ini, tidak jadi kena kanker saya akan menjadi hamba Tuhan, saya akan serahkan anak saya untuk melayani-Mu dsb, kita tawar-menawar. Harapan kita membujuk Tuhan agar Tuhan mengurungkan niat-Nya, nah tawar-menawar ini biasanya kita lakukan dengan sungguh2, tadinya benar2 marah ma Tuhan sekarang berbalik.( hehhe cara nih jgn di praktekin ).
-
Tahap marah kelas berat (depresi), tidak bisa lagi diekspresikan sehingga muncul depresi. Penyebabnya adalah kenyataan yang dia harus terima, tidak ada jalan lain, tawar-menawar tidak berhasil, tetap menderita penyakit, bencana telah datang n ga bisa lagi mengelak.
-
Tahap mengumpulkan kembali hidup kita, mengintegrasikan kembali baik ato buruk yang telah terjadi n tersisa. Jadi secara nyata kita melihat kerugian yg harus kita tanggung n harus menghitung yg tersisa pada diri kita ato kehidupan kita. Nah akhirnya kita satukan kembali kepingan2 hidup itu dan memulai hidup yg baru.
Kesaksian seorang pendeta yg kehilangan anaknya krn kematian. Pendeta ini sering memberikan penghiburan kepada jemaatnya. Jadi jemaatnya ingin tahu apa yg dilakukan si pendeta setelah kehilangan anak yg dikasihinya. Ternyata pendeta dgn tabah n kuat melewatin. Sewaktu anaknya dikubur, ia berkhotbah : "Satu besi kalo dilempar ke air akan tenggelam, tapi besi yg dipasang, dibangun menjadi sebuah kapal yg bisa mengapung." Dia berkata: "Kematian anak saya ibarat satu besi itu, kalo dilempar ke laut akan tenggelam. Namun itu merupakan besi yg dipake Tuhan tuk merancang sebuah kapal yg besar n kapal itu memang tidak bisa saya lihat sekarang, tapi itu adalah rencana Tuhan."
kesaksian ini memberikan kita satu penghiburan apapun yg kita alami, akan ditangani oleh Tuhan n akan menjadi kebaikan.
Kejadian 50:20 berkata: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap ku, tapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan." Meskipun jahat, meskipun buruk, Tuhan bisa menjadikan yang baik.
|