My Diari

Orang yg bijak mempelajari byk perkara drpd musuhnya sendiri,lebih baik tuk mengetahui kelemahan & kegagalan sendiri drpd menuding kesalahan kepada pihak lain.

KEPRIBADIAN

Filed under: HUMAN — brezeee at 1:35 pm on Saturday, July 15, 2006

Ada banyak cara mengukur berapa sehat tidaknya kepribadian seseorang, salah satunya adalah melalui lima karakteristik berikut ini:

  1. Neurotisisme: Faktor ini merujuk kepada kesanggupan orang menanggung tekanan hidup. Orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki tuntutan yang tidak realistik sehingga rawan terhadap stres bila keinginannya tidak tercapai. Akibatnya ia rentan terhadap depresi dan kemarahan. Kerap kali ia dibuat lumpuh oleh masalahnya atau, ia akan menyalurkan stres itu ke tubuhnya yang membuatnya sakit-sakitan. Sebaliknya, orang yang sehat adalah orang yang mampu menahan stres tanpa harus dikuasai oleh kecemasan yang berlebihan.

  2. Ekstraversi: Faktor ini merujuk kepada keterbukaan orang dengan dirinya termasuk pikiran dan perasaannya. Ia sanggup mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan tepat dan bebas sehingga mampu membangun relasi yang dalam dengan sesama. Ia memiliki energi yang tinggi dan mudah bersukacita, ia hangat dan menyenangkan.

  3. Openness to Experience: Faktor ini merujuk kepada semangat untuk hidup dan keterbukaan terhadap pengalaman hidup. Ia tidak takut pada pengalaman baru, bersedia mencoba pengalaman yang baru, dan mengizinkan diri untuk menghayati pengalaman hidup sepenuhnya. Ia terbuka terhadap reaksi perasaannya dan cenderung imajinatif.

  4. Agreeableness: Faktor ini merujuk kepada karakteristik yang lembut, baik hati, mudah percaya, ringan tangan, dan pemaaf. Lawan dari karakteristik ini adalah antagonistik-sinis, kasar, penuh curiga, sukar kerja sama, mudah marah, dan manipulatif.

  5. Conscientiousness (Tanggung jawab): Faktor ini merujuk kepada orang yang mampu menjalankan hidupnya dengan penuh tanggung jawab. Ia memiliki komitmen pada kewajibannya dan sanggup memenuhinya. Ia mempunyai tujuan hidup yang jelas dan target yang dapat dicapainya. Orang ini tidak mudah menyerah dan berdisiplin diri.

Firman Tuhan: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1Korintus 13:13)

Kesimpulan: Orang yang sehat adalah orang yang beriman, berpengharapan, dan mengasihi.

Buta diri

Filed under: HUMAN — brezeee at 1:11 pm on Saturday, July 15, 2006

Anda lupa diri????…..

Salah satu keterampilan hidup yang perlu kita miliki adalah kemampuan melihat diri sendiri. Tanpa keterampilan ini niscaya kita akan mengalami masalah dalam relasi dan dalam kehidupan ini.

Ciri-Ciri Buta Diri:

  1. Tidak melihat kekuatan dan kelemahan diri. Orang ini bukannya tidak mengakui kelemahan sama sekali; ia mengakui mempunyai kelemahan tetapi tidak tepat melihat kelemahannya. Demikian pula dengan kekuatannya.

  2. Tidak menyadari dampak sikap dan perbuatannya pada orang lain. Ia tidak sanggup menyambungkan dengan konsisten niat baik dan wujud nyatanya. Artinya, kendati niatnya baik, namun penyampaiannya begitu keliru sehingga tidak terkomunikasikan dengan tepat.

  3. Ia mudah frustrasi dengan sikap orang yang tidak menghargai niat baiknya namun ia tidak bisa melihat mengapa sampai orang tidak dapat menerima niat baiknya.

  4. Rasa tidak mengerti ini akhirnya makin memisahkannya dari orang lain dan ini bisa berdampak negatif. Ia mulai dan makin melihat orang lain "tidak baik" karena mereka menolak dan tidak menghargai niat baiknya. Ia makin menutup diri dan membuatnya makin tidak terampil bergaul dan makin tidak terampil bergaul, makin sulit ia berelasi.

  5. Tidak bisa membaca sikap dan reaksi orang dengan tepat. Ia bisa membaca reaksi orang namun tidak dapat membacanya dengan tepat. Ini adalah akibat dari ketertutupannya dan keterpisahannya dari orang. Makin terkucil, makin besar kemungkinan kelirunya ia membaca reaksi orang. Dan, karena ia menyimpan praduga bahwa orang lain tidak baik (tidak menghargai niat baiknya), dengan mudah ia menafsirkan reaksi orang dari kacamata negatifnya, misalnya memang orang itu bersikap demikian karena meremehkannya, dsb.

Bagaimana Menolongnya?

  1. Sebenarnya orang yang buta diri ini ingin berelasi dan merindukan penerimaan. Kemungkinan ia dibesarkan dalam suasana rumah yang dingin atau tidak menghiraukannya. Sejak kecil ia "dipaksa" untuk memunculkan dirinya agar "terlihat" dan ini bisa dilakukannya dengan pelbagai cara, misalnya kenakalan atau sebaliknya, prestasi. Jadi, kita dapat menolongnya dengan meyakinkannya bahwa ia dikasihi dan diterima, lepas dari perbuatannya.

  2. Setelah ia dapat menerima kasih dan percaya kepada kita, berilah tanggapan kepadanya agar secara perlahan ia mulai dapat melihat dirinya. Inilah yang terhilang dan inilah yang akan kita berikan kepadanya.

Firman Tuhan: "Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak." Amsal 15:12

Perbedaan kepribadian

Filed under: HUMAN — brezeee at 1:01 pm on Saturday, July 15, 2006

Kesulitan beradaptasi dengan perbedaan????

Kita memiliki cara hidup atau gaya hidup yang tertentu. Nah …sewaktu hidup serumah dengan pasangan kita, berarti kita harus siap untuk beradaptasi.

Adaptasi artinya adalah berani untuk memerika diri, introspeksi kelemahan masing-masing dan akhirnya berani untuk mengubah diri. Kecenderungan banyak pasangan nikah yang tidak mencari bantuan terhadap masalahnya sampai masalah itu berkembang begitu seriusnya.

Bahkan dikatakan dalam bukunya Marcia Lasswell yaitu No Fault Marriage mengatakan bahwa rata-rata pasangan nikah datang mencari pertolongan kepada konselor setelah mengalami persoalan pernikahan kira-kira sekitar 7 tahun. Problem itu ditumpuk selama bertahun2 dan akhirnya tak bisa dikendalikan lagi dan barulah dibawa ke orang lain untuk mendapatkan bantuan.

Penyebab kenapa orang tidak segera mencari bantuan terhadap masalahnya adalah:

  1. Budaya, budaya kita adalah budaya yang dipenuhi dengan rasa malu. Kita cenderung menutup diri, kita mempunyai anggapan tidak baik membicarakan masalah rumah tangga dengan orang lain.

  2. Adanya anggapan, bahwa menceritakan kejelekan pasangan kita itu berarti memberitakan kejelekan kita sendiri.

  3. Kita berpikir kalau kita ini menceritakan masalah pasangan kita, kita ini sedang berkhianat.

  4. Dan alasan yang paling mendasar, kita adalah orang yang tidak begitu menyukai perubahan.

Ada beberapa pandangan bagaimana cara penyelesaian masalah yaitu:

  1. Menguasai / mendominasi ? mendominasi atau menguasai secara paksa akan membuat suasana pernikahan "tenteram". Dan tenteram ini bersifat semu atau sementara. (cara ini tidak dianjurkan).

  2. Menghindar ? cara ini tidak sehat sebab kita hanya menunda membicarakan dan menyelesaikan masalah dan kita mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain.

  3. Menurut/mengikuti kemauan pasangan kita ? ini pun tidak sehat sebab waktu kita menuruti atau mengikuti kemauan pasangan kita itu berarti kita harus menguasai atau mengekang keinginan kita.

  4. Kompromi ? kita dan pasangan kita masing-masing mengurangi tindakan kita atau tuntutan kita supaya akhirnya dapat mencapai titik temu. Cara inilah yang boleh kita gunakan dalam situasi konflik yang sudah rumit sekali.

  5. Bekerja sama, yaitu kedua belah pihak berusaha memenuhi kebutuhan masing-masing/memikirkan solusinya.

Untuk bisa bekerja sama ada yang perlu dilakukan yaitu:

  1. Harus mengakui adanya konflik

  2. Mengkomunikasikan dan mengakui kebutuhan atau keinginan kita masing-masing, apa yang diinginkan itu yang perlu disampaikan.

  3. Memikirkan alternatif penyelesaian dan dampak terhadap masing-masing pihak.

  4. Mulai memilih alternatif yang memenuhi keinginan masing-masing pihak.

  5. Melaksanakannya.

Penyebab keretakan hubungan

Filed under: HUMAN — brezeee at 9:29 pm on Monday, July 3, 2006

Penyebab utama mengapa orang bercerai bukanlah perselingkuhan atau hal-hal lain namun masalah ekonomi ato isitlah kasar nya duit. Jadi faktor finansial merupakan faktor yang sangat penting sekali dalam berkeluarga, begitu pentingnya sehingga akhirnya dapat mematahkan atau memutuskan tali pernikahan.

Aspek finansial merupakan aspek yang sangat hakiki/integral dalam kehidupan berumah tangga. Dan tanpa disadari duit/uang sebetulnya telah menjadi penyangga kelangsungan hubungan suami-istri. Contohnya rekreasi memerlukan uang, makan keluar dengan teman-teman atau dengan keluarga, anak-anak ulang tahun atau natal memerlukan mainan atau uang. Jadi uang itu sangat-sangat penting dan benar-benar memasuki setiap sendi kehidupan rumah tangga. Uang juga berfungsi sebagai sumbang sih dalam kemesraan hubungan suami-istri.

Dampak negatif krisis keuangan yang perlu diperhatikan:

  1. Kesulitan finansial memaksa kita mengubah gaya hidup.

  2. Melahirkan tekanan baru pada hubungan suami-istri.

  3. Ada hal-hal yang disarankan atau perlu dilakukan dalam menghadapi stres: Mendengarkan musik, buku yang berjudul Music as Medication, musik adalah obat memaparkan bahwa:

    1. Musik mempunyai dampak yang sangat besar sekali khususnya dalam proses pemulihan dan perilaku kita pada umumnya. Misalnya musik dapat memancing emosi yang kuat, musik yang diperdengarkan dengan tempo yang sedang di pasar swalayan menyebabkan kwantitas belanja sebanyak 80%.

    2. Musik dapat menurunkan tekanan darah tinggi, detak jantung dan pernapasan yang cepat. Maksudnya adalah sewaktu kita mendengarkan musik yang lembut dan tenang ternyata itu bisa membuat jantung kita lebih tenang, tidak berdetak dengan terlalu cepat atau pernapasan yang sedang berlari-lari cepat juga bisa diperlambat dengan suara musik yang tenang.

Jadi singkatnya musik bisa mengurangi persepsi kita akan rasa sakit, ketakutan, stres dan kecemasan. Meski musik tidak dapat menghilangkan problem kita namun ia bisa membantu kita menghadapinya, dan meskipun musik bukan solusi atas kesulitan kita tapi musik dapat menolong kita untuk bersikap lebih tenang dan santai dalam memecahkan masalah, musik tidak dapat menggantikan firman Tuhan namun musik dapat dipakai Tuhan mengkondisikan kita agar siap mendengarkan Firman dan janji-Nya. Sudah tentu kita perlu arif memilih musik yang sesuai, senandung yang tenang akan mengisi kalbu kita dengan kedamaian, sedangkan lantunan yang gembira akan menceriakan jiwa kita.

Tuhan Yesus berkata: "Datanglah kepadaKu, hai kamu yang letih dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Ini janji Tuhan. Mazmur 125:1, "Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya." Kita percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita, Dia akan mempedulikan kita, itu janji Tuhan dan Tuhan tidak berbohong.

Bumbu ato Racun dalam berpasangan

Filed under: HUMAN — brezeee at 8:36 pm on Monday, July 3, 2006

Segala jenis perselisihan sebenarnya merupakan bentuk-bentuk perbedaan pendapat. Yang membedakannya adalah cara penyelesaiannya. Ada tiga jenis perselisihan dalam berpasangan :

  1. Konflik. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui argumentasi atau perdebatan-persuasi verbal.

  2. Pertengkaran. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui tuduhan dan ancaman yang bermuatan emosi-persuasi emosional.

  3. Perkelahian. Pada level ini perbedaan pendapat diselesaikan melalui pemukulan-persuasi fisik.

Pasangan yang rawan konflik:

  1. Terlalu berbeda: Sulit menyesuaikan diri.

  2. Tidak dewasa: Menuntut pasangan untuk memenuhi kebutuhannya.

  3. Telanjur mengadopsi metode penyelesaian konflik yang melibatkan kekerasan emosional atau fisik: Jika marah harus berteriak atau memukul.

  4. Tidak takut akan Tuhan: Menghalalkan segala cara. Istilah laen nya cari dukun.

  5. Berkepribadian bermasalah: Memakai orang, mencintai benda dan diri sendiri.

Sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik:

  1. Kerendahan hati: Menyadari bahwa kita pun bisa keliru dan tidak melihat masalahnya dengan tepat.

  2. Berbelas kasihan: Tidak sampai hati menyakiti hati pasangan dan membuatnya bersedih.

  3. Mengampuni: Mengakui kita pun memerlukan pengampunan dari Tuhan dan sesama.

Firman Tuhan, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" Matius 7:1-3